Kamis, 17 November 2011

KLASIFIKASI IKAN BERDASARKAN HABITAT



A.    Marine
1.      Ikan Kerapu Macan (Epinehelus fuscoguttatus)



ü  Habitat
Habitat benih ikan kerapu macan adalah pantai yang banyak ditumbuhi algae jenis reticulata dan Gracilaria sp, setelah dewasa hidup di perairan yang lebih dalam dengan dasar terdiri dari pasar berlumpur
ü  Nilai Ekonomi
Ikan Kerapu umumnya dikenal dengan istilah "groupers" dan merupakan salah satu komoditas perikanan yang mempunyai peluang baik dipasarkan domestik maupun padar internasional dan selain itu nilai jualnya cukup tinggi. Eksport ikan kerapu melaju pesat sebesar 350% yaitu dari 19 ton pada tahun 1987 menjadi 57 ton pada tahun 1988 (Deptan, 1990). Ikan Kerapu mempunyai sifat-sifat yang menguntungkan untuk dibudidayakan karena pertumbuhannya cepat dan dapat diproduksi massal untuk melayani permintaan pasar ikan kerapu dalam keadaan hidup. Berkembangnya pasaran ikan kerapu hidup karena adanya perubahan selera konsumen dari ikan mati atau beku kepada ikan dalam keadaan hidup, telah mendorong masyarakat untuk memenuhi permintaan pasar ikan kerapu melalui usaha budidaya.

2.      Ikan Marlin (Makaira indica)
ü  Habitat
Ikan ini yang terdapat di Samudra Hindia dan menjadi buruan dalam kegiatan hobi olahraga memancing di Pelabuhan Ratu. Selain di situ juga terdapat di Samudra Pasifik. Berada pada air dengan suhu 21-30 derajat Celcius dan jarang dijumpai di perairan dingin. Ikan ini dapat dengan cepat diidentifikasi karena ini satu-satunya marlin yang memiliki sirip punggung yang kaku. Sirip ini tidak bisa dilipat ke badannya. Garis punggungnya jarang sekali tampak jelas pada ikan dewasa.
ü  Nilai Ekonomi
Ikan marlin memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Ikan marlin banyak dimanfaatkan sebagai makanan oleh masyarakat. Ikan ini biasanya dikonsumsi dalam bentuk abon ataupun diolah menjadi masakan.

B.     Diadromous
ü Anadromous
1.      Ikan Salmon
ü  Habitat
Ikan salmon merupakan ikan yang berasal dari Samudera Atlantik dan Samudra Pasifik. Ikan salmon mempunyai siklus hidup yang panjang dan berbahaya. Ikan yang masih muda menetas dan berkembang biak dalam air sungai yang sejuk, jernih dan tawar. Setelah tumbuh lebih besar, kawanan besar ikan salmon atau disebut juga shoal, bergerak ke arah hilir ke arah lautan. beberapa tahun kemudian, ikan salmon dewasa kembali ke sungai tempat mereka dulu menetas, sehingga ikan betina dapat bertelur. Ikan yang bermigrasi ini harus berenang melawan arus air. Mereka melompat tinggi keluar dari air, melewati arus air yang kuat dan mendaki air terjun. Seekor ikan salmon yang besar mampu melompat sampai 3 meter dalam usahanya untuk sampai di atas aliran air sungai yang deras dan air terjun.
ü  Nilai Ekonomi
Ikan salmon memiliki nilai ekonomi yang sangat tinggi. Ikan ini memiliki banyak manfaat. Ikan salmon dikenal sebagai makanan bagi otak juga memiliki khasiat sebagai makanan untuk menjaga kulit sehat. Ikan salmon dapat mengobati terjadinya keriput pada kulit dan memelihara penampilan kulit tetap sehat.
2.      Ikan Allis shad (Alosa alosa L.)
ü  Habitat
Jenis ikan shad merupakan kelompok ikan pelagik yang ditemukan di laut seluruh dunia kecuali Antartika. Kebanyakan hidupnya adalah di laut, namun hidup di air tawar juga untuk memijah. Ikan allis shad dewasa dapat ditemukan di pantai barat Eropa dari Islandia dan Norwegia sampai Spanyol. Namun selama migrasi pemijahan akan ditemukan di beberapa sungai besar di Eropa, kebanyakan di Perancis, Spanyol, dan Portugal.
ü  Nilai Ekonomi
Ikan Allis shad banyak di tangkap oleh para nelayan sebagai barang komersil.

ü Catadromous
1.      Ikan Sidat (Anguilla sp.)

ü  Habitat
Habitat ikan Sidat biasanya banyak ditemukan di daerah rawa-rawa atau parit-parit yang agak dalam, terutama sungai-sungai yang bermuara langsung ke laut. Di dusun -dusun wilayah Sleman maupun Bantul masih dapat ditemukan beberapa Sidat, walaupun sekarang jumlahnya tidak begitu banyak. Selain itu ikan sidat juga dapat ditemukan di daerah-daerah yang berbatasan dengan laut dalam seperti pantai selatan P. Jawa, pantai barat P. Sumatera, pantai timur P. Kalimantan, pantai P. Sulawesi, pantai Kepulauan Maluku, dan Irian Barat. Berdasarkan pemetaan yang dilakukan, dapat diketahui bahwa daerah spawning ground terkonsentrasi di Perairan Mentawai, Sumatera Barat. Melalui arus laut, larva ikan sidat tersebut diketahui banyak ditemukan di Pelabuhan Ratu, Sukabumi dan di Segara Anakan, Cilacap. Di daerah-daerah tersebut memiliki perairan mangrove yang memang merupakan habitat ikan sidat sebelum menjadi dewasa dan siap kembali bermigrasi ke laut dalam. Matsui (1993) menduga lokasi pemijahan ikan sidat berada pada kedalaman lebih dari 500 m. Leptochephalus yang baru menetas bergerak kearah permukaan laut dan berenang secara diurnal. Leptochephalus mengalami metamorfosis menjadi glass eel yang ditandai dengan terbentuknya sirip dan panjang badan mulai memendek selanjutnya glass eel tersebut berenang mengikuti arah arus hingga mencapai air tawar.
ü  Nilai ekonomi
Sidat (Anguilla spp.) merupakan ikan konsumsi yang memiliki nilai ekonomis penting baik untuk pasar lokal maupun luar negeri. Permintaan pasar akan ikan sidat sangat tinggi mencapai 500.000 ton per tahun terutama dari Jepang dan Korea, pemasok utama sidat adalah China dan Taiwan (Anonim, 2006). Sidat yang dikenal dengan ’unagi’ di Jepang sangat mahal harganya karena memiliki kandungan protein 16,4% dan vitamin A yang tinggi sebesar 4700IU (Pratiwi, 1998).
Dunia mengenal sebanyak 18 jenis sidat (Miller & Tsukamoto, 2004). Beberapa jenis sidat Eropa dilaporkan terancam punah akibat penangkapan yang berlebihan dan kerusakan habitat, sehingga hasil tangkapan benih menurun drastis hingga 95-99% (Anonim, 2008). Di Indonesia sendiri sedikitnya mengenal tujuh jenis sidat (Sugeha dkk., 2006), namun hanya Anguilla bicolor yang sudah mulai dibudidayakan (Peni, 1993). Daerah penangkapan benih sidat meliputi pantai barat Sumatera dan pantai Selatan Jawa, terutama di Pelabuhan Ratu dan Cilacap.
2.      Ikan Kakap putih (Lates calcarifer)
ü  Habitat
Habitat asli ikan kakap putih adalah lingkungan laut. Ikan kakap putih mempunyai toleransi terhadap variasi kadar garam dan bersifat katadromous yaitu dibesarkan di air tawar dan kawin di laut. Ikan kakap merupakan spesies ikan euryhaline dan katadromous. Ikan dewasa ditemukan di muara sungai, danau atau laguna dimana salinitas dan kedalaman berkisar antara 30–32 ppt dan 10–15m Estuarine. Oleh karena itu, ikan kakap putih dapat dipelihara, baik di lingkungan air laut, payau maupun tawar. Suhu optimum bagi pertumbuhannya berkisar 27-30 derjat celcius dan pH 7-8.
Ikan kakap putih di secara luas tersebar di wilayah tropika dan sub tropika Pasifik Barat dan Lautan Hindia, di antara 50°E - 160°W, 24°N – 25°S. Ikan ini terdapat khusunya pada bagian Utara Asia, Utara Australia, Barat hingga Timur Africa. Di Indonesia Ikan kakap putih terutama terdapat di perairan pantai Utara Jawa, di sepanjang perairan pantai Sumatera bagian Timur, Kalimantan, Sulawesi Selatan, dan Arafuru.
ü  Nilai ekonomi
Kakap putih adalah jenis ikan yang memiliki nilai ekonomis tinggi dan banyak digemari, baik untuk dikonsumsi masyarakat atau untuk komoditas ekspor. Di beberapa negara seperti: Malaysia, Thailand dan Singapura, usaha budidaya ikan kakap dalam jaring apung (floating net cage) di laut telah berkembang. Produksi ikan kakap di Indonesia terutama dihasilkan dari tangkapan nelayan di laut. Kakap putih dapat dipelihara dengan baik dalam perairan payau maupun dalam jaring apung di laut. Ikan ini menjadi komoditas yang sangat menarik untuk usaha budidaya, baik secara kecil-kecilan ataupun skala besar, karena mempunyai harga yang cukup baik. Tingginya harga jual dan permintaan pasar di dalam dan luar negeri menuntut adanya pemenuhan produksi kakap putih. Ketersediaan benih secara kontinyu merupakan salah satu solusi dalam mendukung produksi kakap putih.

C.    Estuarin
1.      Ikan Manyung (Arius thalassinus)
ü  Habitat
Menurut Kailola (1980) dalam Moosa (1987), suku Ariidae hidup di ketiga wilayah tropis dunia, yaitu Atlantik tengah, Laut Merah, dan Samudera Hindia hingga ke Indonesia, Filipina, Taiwan, Papua Nugini dan Australia Utara. Pusat penyebaran utama suku Ariidae ini berada di bagian Utara Amerika, Selatan India, Indonesia, dan Papua Nugini. Penyebaran ikan Manyung di Indonesia meliputi perairan laut barat Sumatera Selatan, Jawa, Selat Malaka, Timur Sumatera, Utara Jawa, Bali-Nusa Tenggara Timur, Selatan dan Barat Kalimantan, Selatan Sulawesi, Utara sulawesi, Maluku dan Irian.
Menurut Suhendra (1991), ikan Manyung di Indonesia ini banyak ditemukan hampir di seluruh perairan pantai Indonesia terutama pada pantai yang ada muara sungainya (estuari), yaitu pada dasar perairan muara sungai menuju laut pada kedalaman 20-100 m.
ü  Nilai Ekonomi
Ikan manyung banyak dikonsumsi oleh masyaraka. Pemanfaatan manyung cukup luas, khususnya di kawasan Pantai Utara Jawa. Kajian pengolahannya terus dilakukan. Kepala ikan manyung digulai, dimangut, atau diasap, menjadi makanan khas pantai utara Jawa (Pantura). Kantung udara ikan ini juga diperdagangkan dan dikonsumsi. Telur manyung dapat dipepes. Kajian pembuatan surimi dari manyung juga telah dilakukan.
2.      Ikan Belanak (Mugil cephalus)
ü  Habitat
Ikan ini terdistribusi pada semua perairan terutama di daerah estuari (coastal) dan laut di daerah tropis dan subtropis yaitu di Indo-Pacific, Filipina, dan Laut Cina Selatan, hingga Australia. Di Sungai Musi ikan belanak hidup di daerah muara dan estuaria seperti di daerah Sungsang dan Sembilang (Utomo, et al., 2007). Ikan belanak merupakan jenis ikan pelagis (benthopelagic) yang bersifat katadromus hidup di perairan tawar seperti sungai, estuari dan laut dengan kedalaman sampai 120 meter, temperatur antara 8-240C.
ü  Nilai Ekonomi
Ikan belanak memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi dan banyak dikonsumsi oleh masyarakat


D.    Fresh water
1.      Ikan Nila (Oreochromis niloticus)
ü  Habitat
Ikan nila adalah jenis ikan air tawar. Ikan nila bisa hidup di perairan air tawar hampir di seluruh Indonesia. Habitat asli ikan ini adalah sungai Nil di Mesir. Ikan nila memiliki kemampuan menyesuaikan diri yang baik dengan lingkungan sekitarnya. Ikan memiliki toleransi yang tinggi terhadap lingkungan hidupnya. Sehingga ia bisa dipelihara di dataran rendah yang berair payau maupun dataran yang tinggi dengan suhu yang rendah. Ia mampu hidup pada suhu 14 – 38 derajat celcius. Dengan suhu terbaik adalah 25 –  30 derajat. Hal yang paling berpengaruh dengan pertumbuhannya adalah salinitas atau kadar garam jumlah 0 – 29 % sebagai kadar maksimal untuk tumbuh dengan baik. Meski ia bisa hidup di kadar garam sampai 35% namun ia sudah tidak dapat tumbuh dan berkembang dengan baik.
ü  Nilai ekonomi
Ikan nila merupakan ikan yang laris dipasaran. Ikan ini memiliki tujuan ekspor antara lain Singapura, Hongkong, Saudi Arabia, Amerika Serikat serta beberapa negara di Eropa. Ikan Nila adalah ikan dengan pertumbuhan paling cepat dibandingkan ikan lain. Ikan nilan dapat tumbuh sampai 1 kg per ekornya dengan rasa dagingnya yang luar biasa enak. Ikan nila merupakan ikan favorit bagi para peternak ikan karena nilai jualnya yang tinggi sekaligus pertumbuhannya yang pesat menyebabkan waktu panen yang lebih pendek. Ikan nila juga mudah sekali pembudidayaannya, bahkan ikan ini dapat dibudidayakan dengan berbagai macam cara menggunakan kolam, jarring apung , atau karamba, di sawah, bahkan di kolam yang berair payau ikan ini mampu tumbuh dan berkembang.
2.      Ikan Lele (Clarias sp.)
ü  Habitat
Habitatnya di sungai dengan arus air yang perlahan, rawa, telaga, waduk, sawah yang tergenang air. Bahkan ikan lele bisa hidup pada air yang tercemar, misalkan di got-got dan selokan pembuangan.
Ikan lele bersifat nokturnal, yaitu aktif bergerak mencari makanan pada malam hari. Pada siang hari, ikan lele berdiam diri dan berlindung di tempat-tempat gelap. Di alam, ikan lele memijah pada musim penghujan.

ü  Nilai Ekonomi
Ikan lele merupakan ikan yang laris di pasaran. Di indonesia sendiri lele banyak dikonsumsi oleh masyarakat. pada awalnya pemeliharaan ikan lele hanyalah sebagai kegiatan sambilan saja. Seiring dengan semakin tingginya permintaan ikan lele, membuat peluang bisnis budi dayanya semakin terbuka. Apalagi budidaya ikan lele, baik pembenihan maupun pembesaran, dapat dijalankan tidak hanya dengan modal besar, tetapi dengan jumlah terbataspun dapat dilakukan.



DAFTAR PUSTAKA

Sigit Budileksono dan Yayan Sofyan, "Pemijahan Alami Ikan Kerapu Macan (Epinephelus fuscoguttatus) di Bak Terkontrol", Buletin Budidaya, 1993.
Direktorat Jenderal Perikanan. 1994. Teknologi Pembesaran Ikan Kakap Putih (Lates Calcarifer, Bloch) di Keramba Jaring Apung. Departemen Pertanian.
Miller, M.J. & K. Tsukamoto. 2004. An introduction to leptocephali biology and identification. Ocean Reeserch Institute, the University of Tokyo.
Peni, S.P. 1993. Tiga jenis sidat laku ekspor. Trubus No. 285 Th.XXIV.
Pratiwi, E. 1998. Mengenal lebih dekat tentang perikanan sidat (Anguilla spp.). Warta Penelitian Perikanan Indonesia Vol. 4(4): 8-12.
Anonim. 2008. Sidat terancam punah. http://www.seputar -indonesia.com
Suyanto, S. Rachmatun. 2008. Budidaya Ikan Lele. Penebar Swadaya, Depok.
Maitland, Peter S. And Hatton-Ellis, Tristan W. 2000. Ecology of the Allis and Twaite Shad. Conserving natura 2000 Rivers Ecology Series No. 3. English Nature, Peterborough.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar